Asri Muliyandra
05 February 2026
Berita
Keramaian kembali menyapa meeting room SMA Negeri 3 Bukittinggi pada
Kamis (5/1/2026). Ruang yang biasanya tenang itu hari ini dipenuhi antusiasme.
Pihak puskesmas Guguk Panjang hadir di sana untuk mengusung kegiatan Penyuluhan
dan Orientasi First Aider Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP)
kepada guru dan anak sekolah. Kegiatan ini di hadiri oleh siswa yang tergabung
dalam ekstrakurikuler PMR, Stigpala, dan Pramuka, serta guru pembimbing dari
ketiga ekstrakurikuler tersebut.
Penyuluhan ini
bertujuan untuk memberikan pengajaran dan pembekalan kepada siswa terkait
pertolongan yang dapat dilakukan ketika mengalami luka psikologis, maupun saat
melihat orang lain mengalami kondisi serupa.
Acara di buka oleh
Ibu Kurnia Mira Lestari, M.Pd. Beliau menyampaikan bahwa ekstrakurikuler PMR,
Stigpala, dan Pramuka merupakan sasaran utama kegiatan ini karena materi P3LP
sangat relevan dengan peran dan aktivitas ketiga ekstrakurikuler tersebut.
Selanjutnya,
kegiatan sepenuhnya di serahkan kepada pihak puskesmas yang dipandu oleh ibu
Yulia Hastuti. Sebelum masuk ke acara utama yaitu pembekalan materi, seluruh
siswa yang hadir diarahkan untuk mengisi skrining kegiatan sebagai langkah awal
mengenali kondisi diri.
Materi tentang
Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) kemudian disampaikan oleh ibu
Wiwit Mardiah, S.Kep. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa P3LP memiliki
peran yang tak kalah penting dibandingkan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan
(P3K) .
"Luka ini
tidak terlihat dan tidak tampak, tapi dia akan mengganggu keseharian
kita," tutur ibu Wiwit.
Adapun materi yang
dipaparkan meliputi:
1.
Definisi luka psikologis.
2.
Dampak pada Anak sekolah.
3.
Peran Sekolah.
4.
Mengenali tanda-tanda psikologis.
5. Prinsip dasar P3LP.
6.
Peran guru dan staf sekolah sebagai penolong pertama.
Seluruh siswa yang
terlibat terlihat begitu antusias dalam mendengarkan pemaparan materi. Suasana
semakin hidup melalui interaksi dan diskusi yang terjalin antara pemateri dan
peserta, menjadikan materi terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Sebelum beranjak ke
sesi selanjutnya, snack diberikan kepada seluruh peserta. Diselingi dengan tanya jawab dengan pihak puskesmas. Tanya
jawab antara ibuk Atmawati, S.PdI.,Gr dan pihak puskesmas berlangsung seru dan
interaktif.
Kegiatan kemudian
berlanjut ke sesi diskusi kelompok dan bermain peran. Siswa dibagi menjadi tiga
kelompok untuk membahas tiga kasus berbeda yang mampu menggugah perhatian.
Diskusi kelompok berlangsung dengan asik dan penuh antusiasme. Setiap anggota
kelompok saling bahu-membahu, bertukar pikiran dan merangkai ide untuk
menciptakan alur drama yang menarik.
Setelah diskusi
selesai, setiap kelompok diminta untuk bermain peran berdasarkan skenario drama
yang telah mereka buat. Aksi bermain peran ini diawali oleh kelompok A dan
berlanjut hingga kelompok B dan C.
Setiap kelompok
menampilkan drama kelompok mereka masing-masing dengan penuh semangat. Berkat
kerja sama yang baik, penampilan setiap kelompok berhasil menyita perhatian,
menghadirkan pesan P3LP dalam balutan cerita yang memukau.
Dalam penyampaian
evaluasi kegiatan bermain peran pada penyuluhan P3LP, Ibu Wiwit memberikan
apresiasi kepada setiap kelompok atas aksi bermain peran yang dinilai kreatif
dan memanjakan mata. Menurutnya, penampilan para peserta tidak hanya
menunjukkan pemahaman materi yang baik, tetapi juga keberanian dalam
menyampaikan pesan-pesan penting P3LP secara komunikatif dan menarik.
Ia menambahkan
bahwa metode bermain peran menjadi salah satu media efektif dalam kegiatan
penyuluhan karena mampu meningkatkan partisipasi aktif peserta serta memudahkan
pemahaman materi. Melalui evaluasi ini, diharapkan seluruh peserta dapat
mengambil pelajaran dari setiap penampilan kelompok dan menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari sesuai dengan tujuan penyuluhan P3LP.
Evaluasi tersebut
menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan. Acara ditutup dengan
sesi foto bersamaâsebuah bingkai kenangan dari hari ketika siswa belajar bahwa
luka tidak selalu tampak oleh mata, tetapi tetap perlu dipahami dan ditangani
dengan empati. Diharapkan, melalui penyuluhan ini, siswa dan guru dapat lebih
peka serta sigap dalam memberikan pertolongan pertama terhadap luka psikologis
di lingkungan sekolah.